Bekal Masa Depan Anak: Ajarkan Syukur, Husnuzan, dan Ikhlas Sejak Dini

Sebab dalam pandangan psikologi mutakhir memandang bahwa kebahagiaan itu terjadi secara subyektif.
Dalam konteks negara, kebahagiaan diukur dengan barometer objektif menggunakan indeks kebahagiaan, maka negara-negara dengan tingkat pendidikan, kesehatan, dan tingkat ekonomi yang tinggi dianggap sebagai negara yang bahagia.
Menurut Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren MuhammadiyahPimpinan PusatMuhammadiyah, Khoiruddin Bashori menyebut, jika indek kebahagiaan yang digunakan mengukur, maka negara-negara di Asia Timur dianggap memiliki angka kebahagiaan yang rendah.
Sementara, negara-negara di Eropa Barat dan Amerika Utara selalu mendapat angka kebahagiaan yang tinggi. Sebab di negara-negara ini tingkat pendidikan, kesehatan, dan ekonominya lebih tinggi.
“Tapi penelitian-penelitian psikologi kemudian menyimpulkan bahwa ternyata kebahagiaan itu tidak objektif, tetapi subyektif.
Maka kemudian istilah yang digunakan tidak lagi happiness, tapi subjective well being,” katanya pada Sabtudalam Ceramah Tarawih di Masjid Islamic Center UAD.
Pak Irud mendedahkan, bahwa disebut kebahagiaan subjektif karena tergantung subjek yang merasakan, bukan realitas objektifnya. Pakar psikologi ini menambahkan, di ilmu psikologi terdapat dua realitas yaitu yang objektif dan subjektif.
“Realitas objektif, yaitu realitas yang sesungguhnya yang kita alami, yang kita lihat. Tetapi kemudian ada yang kedua yang disebut dengan realitas subjektif.
Realitas subjektif itu adalah realitas yang kita persepsi, yang kita interpretasi, dan itulah yang kemudian kita masukan ke dalam hati,” katanya.
Syukur, Husnuzan, dan Ikhlas Bekal Menghadapi VUCA
Berkaca dari penjelasan itu, Pak Irud menyebut anak-anak perlu mendapat pendidikan tentang syukur, husnuzan, dan ikhlas untuk menghadapi masa depan yang disebut sebagai VUCA adalah akronim dari Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity
Pakar Psikologi ini melihat, konsep syukur dan prasangka baik atau husnuzan yang diajarkan dalam Islam sebagai salah satu aspek yang menimbulkan kebahagiaan di hati manusia.
Rasa syukur ini membantu meningkatkan positif afek pada diri manusia.
Konsep syukur dan husnuzan ini yang menjadikan seorang muslim dapat merasakan kebahagiaan secara terus menerus. Sementara dalam perspektif psikologi yaitu life satisfaction , seseorang bisa tidak bahagia jika keinginannya tidak terwujud.
Sebab, dalam diri seorang muslim memiliki keyakinan bahwa segala harapan atau doa yang dipanjatkan itu akan dikabulkan – namun dengan waktu yang tak terduga.
Meskipun jika doa tidak dikabulkan, seorang muslim akan tetap bersyukur karena itu bagian dari bentuk cinta Allah Swt, karena pilihan Tuhan tentu lebih baik.
Selain syukur dan husnuzan, konsep selanjutnya yang membuat seorang muslim selalu merasa bahagia adalah ikhlas.
Di tengah masa depan yang serba tidak pasti, ambigu, dan kompleks, konsep-konsep yang diajarkan dalam Islam itu menjaga kesehatan jiwa manusia.
